HAPzCHQZiEK4l9hTPastXXr1Bnho6RcJrjSfPSfs

Contact Form

Name

Email *

Message *

Tentang Sebuah Batasan Untuk Dilampaui

Iklan 728x90

Tentang Sebuah Batasan Untuk Dilampaui


Semua orang memiliki batas kemampuan. Hal itu sebenarnya wajar saja sampai kemudian kita berhenti mencapai tujuan yang ingin dicapai. Ketika berada pada kondisi tersebut, terus terang saya benar-benar kecewa dan marah kepada diri sendiri. Namun apa mau dikata, saya yang waktu itu memang berpengetahuan minim tak punya pilihan lain kecuali menyerah. Dan saya sangat menyayangkan apabila hari ini seseorang harus menyerah pada tujuannya, pada cita-citanya, pada pilihan dan mimpinya, hanya karena batasan kemampuannya yang tak mampu dilampaui.
Memang pada hakikatnya manusia dilahirkan berbeda-beda. Jika ada salah satu yang lebih unggul daripada yang lainnya tentu saja ini juga bukan hal yang tak bisa disusul. Masalahnya begini, setelah mengetahui batasan kemampuan diri sendiri, kebanyakan orang langsung merasa pesimis, dengan menguatkan alasannya tersebut menggunakan kalimat diatas, bahwa setiap orang memang berbeda.

Saya sendiri sampai sekarang yakin kalau sebenarnya kesempatan untuk berhasil adalah milik semua orang. Tinggal siapa yang mau repot-repot untuk mencapainya. Banyak yang membayangkan dan mengambil contoh dari seorang yang telah berhasil mencapai puncak teratas dari perjuangannya, akan tetapi jarang ada yang pernah berpikir bagaimana orang tersebut dimasa-masa sulitnya dahulu.

Apa yang coba saya utarakan disini adalah perspektif pribadi saya soal batasan kemampuan seseorang. jika berbicara mengenai batasan, tentu bukan merupakan sebuah kebuntuan, yang artinya hal tersebut tetap bisa ditembus atau dilampau dengan usaha-usaha tertentu.

Lalu kalau memang terdapat batasan kemampuan dalam diri seseorang, pertanyaan mendasar yang akan ditanyakan tentu bagaimana melampauinya? Saya tentunya memiliki jawaban akan pertanyaan tersebut, tapi saya ingatkan bahwa apa yang jadi jawaban saya selalu sesederhana mungkin dengan harapan akan lebih banyak orang menemukan jawabannya sendiri dengan bertindak berdasarkan jawaban yang sebentar lagi akan saya sampaikan.

Baiklah, langsung saja, poin terpenting dalam upaya melampaui batasan kemampuan diri sendiri adalah konsisten. Tidak lebih dari itu. Saya berhenti pada jawaban itu dan seringnya mendapatkan protes dari orang-orang sekitar yang pernah menanyakannya. Tapi jangan begitu tergesa-gesa untuk melancarkan serangan protes pada saya sebelum selesai membaca tulisan saya ini.

Walau kelihatannya begitu sederhana, konsistensi memiliki sebuah filosofi penting dalam hidup saya. Kata yang terdiri dari beberapa huruf, ringan diucapkan serta sering diperdengarkan seringkali hanya mengendap dalam benak banyak orang. Bukan masalah apabila konsistensi terus diulik dan ditelusuri maknanya selama itu dapat membantu untuk segera mengambil tindakan yang akan menjadi awal untuk berubah. Namun jika sebaliknya, kita terus disibukkan dengan kebingungan kita sendiri memaknai konsistensi, malah terus menerus mengajukan pertanyaan beruntun, ketahuilah, pertanyaan-pertanyaan tersebut takkan memberi apa-apa kecuali semangat yang padam pada akhirnya.
Ketika saya pertama kali mendengar kata konsistensi, kala itu saya baru saja mengalami transisi dari remaja menuju kedewasaan, saya tertawa geli dalam hati pada orang yang dengan entengnya mengucapkan kata tersebut. Bukan apa-apa, saya yang menyukai kegiatan diskusi mendalam dibuat heran sendiri atas jawaban tersebut. Apa yang saya harapkan waktu itu adalah kata-kata penuh energi dan inspirasi yang tiada henti. Suntikan motivasi untuk mendorong saya semakin lebih baik kedepan. Ternyata hanya sebuah kata. Bagaimana mungkin hal itu tidak konyol buat saya?

Lalu, seperti yang saya sampaikan diatas bahwa kesederhanaan berpikir menjadikan tindakan yang menuntun kita pada perubahan. Akibat saya yang kala itu lambat dalam mengambil tindakan dan haus akan jawaban-jawaban tak biasa tentang mengembangkan potensi diri, banyak waktu yang terbuang percuma hanya untuk membuat saya terbukti salah. Salah untuk tidak dari awal meyakini kesederhanaan yang menjadi jawaban atas pertanyaan saya. Salah untuk tidak langsung bertindak.

Untungnya, saya menysukuri sisi baik dari kejadian yang saya alami itu, bahwa hari ini saya bisa lebih menguatkan jawaban konsistensi tersebut tanpa mengesampingkan kesederhanaannya. Hanya untuk lebih memperjelas apa yang dulu ternyata tidak sempat disampaikan kepada saya.
Jadi, apakah itu cukup memuaskan sebagai jawaban? Saya rasa tidak. Semuanya saya kembalikan pada diri masing-masing. Sebagai manusia yang dianugerahi kebebasan memilih, adalah pilihan setiap orang untuk menganggukkan kepala atau sebaliknya, menggelengkan kepala pada pendapat saya. Lagipula ini hanya sebagian kecil dari upaya saya untuk peduli pada perkembangan potensi diri. disamping itu, saya tak mungkin dapat memaksakan siapapun untuk mengikuti cara saya.

Meskipun begitu, saya juga perlu mengingatkan bahwa pada masa sekarang ini keselarasan antara berpikir dan bertindak diperlukan. Kamu mungkin membutuhkan lebih banyak sumber yang akan memberimu lebih banyak masukan lagi. Galilah! Selalu sadari untuk tak berhenti pada tujuan dan jangan pernah ragu untuk melampaui batasan kemampuanmu.
Saya dan setiap orang sudah pasti berbeda-beda. Sedikit saya akan menambahkan diluar konteks pembahasan saya kali ini. Kita semakin jauh berjarak antara satu dengan yang lain hanya karena perbedaan diantara kita. Bahkan tak jarang perbedaan malah memicu perpecahan. Padahal itu hanya secuil dan tak lebih penting daripada apa yang bisa kita cari persamaannya diantara kita. Pastinya kita yang merasa perbedaan tak bisa mempersatukan telah membuat batasan sendiri dalam dirinya.

Batasan yang diibaratkan seperti dinding, membuat dirinya menjadi tak lagi bisa dijangkau juga dirangkul bersama. Tidakkah ada yang lebih penting daripada mengedepankan apa yang tampak berbeda tersebut, dan ngotot untuk membenarkan diri sendiri tanpa melihat ke sisi lainnya. Tanpa harus merasa lebih superior dan mengganggap patut menjadi panutan sehingga berani berkoar untuk menolak perbedaan yang ada. Sungguh, saya tak bisa berkata lebih banyak soal ini. Jelasnya, saya lebih suka tidak mempermasalahkan hal-hal sepele. Tanpa itu saja urusan hidup ini sudah banyak. Bukan begitu?

Baca Juga
SHARE

Related Posts

Subscribe to get free updates

Post a Comment