HAPzCHQZiEK4l9hTPastXXr1Bnho6RcJrjSfPSfs

Contact Form

Name

Email *

Message *

Solusi Untuk Ekspektasi Yang Tak Pernah Sejalan Dengan Realita

Iklan 728x90

Solusi Untuk Ekspektasi Yang Tak Pernah Sejalan Dengan Realita



Catatan : Tulisan ini murni bukan rekayasa dan tidak ada trik kamera didalamnya.
Hallo buat semuanya. Selamat datang di blog Galihakmal. Sering-sering buat mampir ke blog ini karena disini akan ada banyak tulisan menarik buat kamu baca.

Kalian pasti pernah dapat situasi dimana ekspektasi kalian itu nggak seperti realitanya. Bukan cuma pernah ngalamin, malah mungkin sering.

Kayak semisal kamu lagi sumpek di kerjaan. Terus kepikiran pengen ambil jatah cuti. Lalu setelah udah ngajuin izin, seketika nampaklah di pikiranmu bayang-bayang suasana liburan yang udah di depan mata, keluar kota misalnya, tempat wisata eksotis, yang pokoknya lepas dulu dari soal kerjaan.
Ternyata pas liburan semua itu sama sekali nggak mirip sama yang dibayangan tadi. Yang justru terjadi adalah kepikiran terus sama kerjaan yang bakal numpuk setelah liburan. Rencana berlibur keluar kota ternyata tiketnya pesawatnya penuh. Planning gagal. Tambah lagi, kamu mendadak sakit jadi jangankan liburan, ngapa-ngapain aja sulit. Mencerna makanan pun tak mampu. Merana. Jatah cuti jadi sia-sia. Kamu fix ngalami momen ekspektasi diluar realita.

Atau misal kamu anak kos yang lagi survive akhir bulan. Tiba-tiba ada temen yang ngajakin, katanya mau traktir makan di restoran. Pas kamunya udah siap-siap. Udah kece parah. Berharap terselamatkan dari tragedi anak kos akhir bulan. Tau-tau dia ngabarin nggak jadi. Padahal udah kebayang-bayang makan enak ala-ala sultan. Jiwa misqueen pun tergores. Ternyata nihil. Alhasil, yang bisa dilakukan cuma ngempet nggak habis-habis gegara terlalu berekspektasi.

Atau katakanlah makan di restonya jadi. Ternyata itu cuma pancingan supaya kamu bisa diprospek temen kamu ikutan MLM. Nikmat mana lagi yang nggak kamu dustakan?

Kejadian-kejadian kayak barusan mungkin cuma segelintir aja. Yang pasti siapapun pernah ngalamin. Termasuk saya sendiri.

Emang sih wajar kalau kita punya ekspektasi, atau berharap sama sesuatu maupun seseorang. Sah-sah aja kan. Lagian hidup ini memang harus punya harapan, daripada nggak punya harapan hidup. Ngeri. Bisa lain ceritanya nanti.

Cuma gini, yang jadi masalah adalah ketika ekspektasi di pikiran kita malah nggak terkendali. Beharap yang berlebihan. Padahal semua yang berlebihan itu mana ada enaknya. Bahkan berlebihan kekurangan diri sendiri juga bukan hal baik loh. 

Saya coba lebih spesifik lagi nih, misalnya dalam menjalani sebuah hubungan. Biasanya, kita pasti berharap pasangan kita mau melakukan sesuatu sebesar yang kita lakukan. Kayak kita yang selalu punya waktu kapanpun dia butuh, terus kita pengen dong dia juga bisa gitu. Tapi nyatanya kita melulu yang luangkan waktu demi dia. Sedangkan dia?
Coba tebak, yang biasa begitu cowok apa cewek?
Ini cuma misal loh ya. Nggak perlu didramatisir juga. Poinnya adalah, itu yang dialami sama banyak pasangan. Dan persoalan ekspektasi berlebihan ini nggak bakal bikin hubungan jadi sehat kalau terus-terusan didiamkan tanpa ada solusinya.

Catat loh ya, artikel ini ngebahas ekspektasi, bukan masalah hati yang baper.
Oleh karena itu, solusi yang perlu dilakukan adalah dengan mengendalikan ekspektasi kita sendiri, baik terhadap sesuatu ataupun seseorang.

Dalam mengendalikan ekspektasi, setidaknya ada beberapa hal yang perlu kamu lakukan. Berikut diantaranya.

Letakkan ekspektasimu di level terendah

Kadang saya suka kepikiran, teringat lebih tepatnya, waktu masih SD dulu. Jadi gini, pas dulu SD kalau ada pertanyaan dadakan dari guru dan satu kelas ditanya siapa yang bisa jawab, pasti yang mengacungkan tangannya terus jawab pertanyaannya sering komat-kamit sendiri. Bukan berharap jawabannya benar, melainkan berharap jawabannya itu keliru. Sampe diucapin bolak-balik. Ini pasti salah. Ini pasti salah. Gitu. Padahal nggak taunya jawabannya bener. Terus si murid tadi masang tampang sok cool tanpa ekspresi. Aslinya hatinya jerit-jerit sendiri.

Tapi ini bikin saya jadi bertanya-tanya, entah kenapa anak-anak kebanyakan gitu. Suka  merendahkan ekspektasi mereka. Nggak cuma anak-anak zaman old, anak zaman now pun juga gitu. Saya tahu ini karena dulu sempat jadi pengajar.

Jadi sebenarnya, kita secara alami mampu buat naruh ekspektasi kita pada level terendah. Kita nggak berharap apa jawaban kita bakal bener. Apa kita bakal dibilang pintar. Enggak. Sama sekali enggak. Malah sebaliknya.

Dan begitu kita dewasa, kita justru lupa caranya menurunkan ekspektasi. Kita kebanyakan berharap terlalu tinggi. Kita berharap nalar kritis kita dapat simpati lebih dari dosen. Kita berharap dapat gaji tinggi pas ngelamar kerja, karena lulusan universitas elit. Kita berekspektasi pada semua hal dengan seolah merasa layak untuk itu. Dan tau-tau realita berkata sebaliknya. Sakit nggak tuh rasanya. Jelas.

Maka, poin pertama yang bisa kita lakukan untuk mengendalikan ekspektasi kita adalah dengan meletakkannya di level terendah. Persis kayak anak kecil yang lagi menjawab pertanyaan gurunya.

Jangan buru-buru menyimpulkan

Pikiran kita ini terkadang bisa lepas dari kendali kita. Jadi liar dan mikir yang bukan-bukan. Seperti membuat kesimpulan hanya dari sebuah pertanda, yang kadang pertanda itu belum tentu menjadi bukti. Anggaplah gampangnya seperti ibu-ibu beranak tiga yang kerjaannya pake daster kalau dirumah terus siang-siang ngangkatin jemuran karena diliatnya langit lagi mendung. Padahal mendung belum tentu juga hujan. Pas ternyata hujan tak kunjung datang, awan hitam rupanya cuma sekedar nangkring, dan si ibu nggak ngerti cuaca lagi labil. Alhasil jemuran lembab yang buru-buru diangkat tadi terpaksa dinaikkan lagi. Atau dipending sampai besok. Kayak sidang cerai artis.


Kalau kita cari tau hubungannya sama ekspektasi, jelas ini lumayan berkaitan. Misal ada cewek ABG yang naksir cowok satu sekolahnya. Katakanlah si cowok itu ketua osis. Lalu ia berlagak curi-curi perhatian cowok itu. Sok pasang senyum paling manis, main-mainin rambut kalau papasan sama si cowok, terus nyapa pakai nada sok imut, dan ketika ia disapa balik, kontan cewek ini bakal ngerasa cowok ini nunjukkin perhatiannya. Seketika ia lalu berkesimpulan kalau perasaannya bakal bersambut. Saking senangnya ia mungkin bakal loncat-loncat begitu di kelas. Pikirannya pun dipenuhi banyak bayang-bayang yang diekspektasikannya kalau akhirnya jadian sama cowok tersebut.

Besoknya, yang terjadi ternyata ia dicuekin sama si cowok. Lebih parah lagi pas ke kantin si cowok lagi berduaan sama cewek lain dan itu diliatnya sendiri, meski entah siapa sebenarnya cewek yang lagi duduk sama dia, yang jelas kesimpulan cewek ini langsung kemana-mana yang pada intinya nyangka kalau si cowok udah punya pilihan hatinya sendiri. Gara-gara itu ia kecewa parah. Padahal belum ada bukti yang bisa dipastikan disitu. Gimana mau mastiin orang nanya aja nggak. Pokoknya keliatan ada pertanda langsung aja buat kesimpulan.

Jadi dari yang niat awalnya pengen PDKT, berharap jadian karena ngerasa udah dapat perhatiannya, ujung-ujungnya malah menjauh. Mundur teratur. Bikin Instastory pakai lagu mellow plus background hitam. Terus nulis. Ekspektasi selalu nggak sesuai sama realita. Hashtag #cukuptau.
Dan dalam skala yang lebih besar kita sering mengalami hal-hal serupa. Kita cenderung terburu-buru membuat kesimpulan sama hal yang kita belum tahu apa. Hanya karena satu pertanda, yang nggak membutikan ekspektasi kita benar apa enggak.

Bertahan pada rasa penasaran

Orang banyak yang nggak suka dibikin penasaran. Sampe amit-amit mati penasaran juga ogah. Penasaran selalu dikaitkan dengan ketidakpastian. Masuk akal sih, tapi sebenarnya rasa penasaran yang ditahan itu bisa bikin kita lepas dari ekspektasi yang bukan-bukan, atau malah terjebak pada realita yang berseberangan sama ekspektasi nantinya.

Coba bayangkan, apa yang kamu bakal rasakan kalau gebetan kamu bilang, ada yang aku mau omongkan. Pasti kamu deg-degan nggak karuan. Dalam hati kamu mulai bertanya-tanya. Kira-kira mau bilang apa ya? Kok dia serius gitu? Macem-macem pokoknya. 

Tapi, supaya kamu nggak berekspektasi berlebihan, coba untuk tetap bertahan pada penasaran. Bukan malah menjawab sendiri pertanyaanmu dengan asumsi. Orang berusaha menepis rasa penasarannya dengan berasumsi. Sayangnya asumsi yang ia buat terlanjur membuat hatinya senang. Asumsi-asumsi itu semata-mata settingan pikirannya sendiri untuk sedikit menggembirakan hati yang penasaran. Namun kalau pada akhirnya apa yang dia asumsiin nggak sejalan sama kenyataannya, ujung-ujungnya repot juga kan.

Jadi bertahan pada rasa penasaran cenderung bikin perasaan kita netral. Karena mungkin banyak kejutan disana, sebab kita tidak menyangka apapun yang mungkin terjadi kedepan.

Kira-kira itu sekedar beberapa hal yang coba saya singgung di tulisan ini soal mengendalikan ekspektasi kita supaya nggak terjebak sama kenyataan yang nggak sesuai. Ini bisa diterapin tidak hanya dalam ekspektasi kita terhadap hubungan, tapi juga ekspektasi kita secara umum terhadap sesuatu maupun seseorang yang ada disekitar kita.

Segitu aja tulisan ini. Kalau kamu punya tanggapan, sampaikan di komentar. Kasi juga masukan enaknya bahas apa di tulisan berikutnya. Thank you buat waktunya. Sampai jumpa.

Salam.

by Liangmula
Baca Juga
SHARE

Related Posts

Subscribe to get free updates

Post a Comment